Mang Idil, Tunanetra 75 Tahun di Ladongi: Dari Gelapnya Dunia, Tetap Menyalakan Semangat Hidup

DAERAH1294 Dilihat

Kolaka Timur – Hidup tidak selalu mudah bagi Mang Idil (Idil Sadili), seorang lelaki tunanetra berusia 75 tahun dari Kelurahan Welala, Kecamatan Ladongi, Kabupaten Kolaka Timur. Sejak usia tiga tahun, ia telah kehilangan penglihatan. Meski begitu, keterbatasan itu tidak menghentikan langkahnya menata hidup.

Lahir di Jawa pada tahun 1940, Mang Idil kemudian ikut program transmigrasi bersama keluarganya pada dekade 1970-an. Ia menetap di Kolaka Timur dan memulai kehidupan baru di tanah yang jauh dari kampung halaman. Seiring waktu, lika-liku kehidupan menempanya menjadi sosok yang sabar dan tegar.

Hari-hari Mang Idil di usia senja masih diwarnai kerja keras. Di belakang rumahnya, ia kerap terdengar gesekan gergaji dan hentakan kapak, membelah kayu untuk dijadikan kayu bakar. Dengan tubuh renta dan matanya yang gelap, ia tetap berusaha berguna.

Keluarga menjadi penopang utamanya. Bersama istrinya, Bu Cucu, Mang Idil mendapat pendampingan penuh. Sang istri menjadi pengganti matanya dalam banyak hal, menemani langkahnya, sekaligus memberi ketenangan di usia tua. Dari buah pernikahan, ia memiliki seorang anak bernama Sarimi yang kini bekerja sebagai pemanjat kelapa. Dengan pendidikan yang hanya sampai bangku SD, Sarimi memilih membantu orang tuanya.

“Ujang tidak mau lanjut sekolah, katanya lebih baik bantu saya,” tutur Mang Idil.

Seorang anak lain dari pernikahan sebelumnya kini bekerja sebagai penjahit. Meski jalan hidup keluarganya berbeda-beda, bagi Mang Idil semuanya adalah rezeki yang patut disyukuri.

Kehidupan Mang Idil berjalan sederhana. Namun berkat kepedulian warga dan dukungan pemerintah, ia tetap bisa bertahan. Setiap bulan ia menerima bantuan beras dan uang tunai. Ada yang diberikan setiap bulan, ada pula yang datang per empat bulan sekali. Selain itu, ia juga mendapat kemudahan dalam mengakses layanan kesehatan.

“Alhamdulillah, ada (bantuan dan pengobatan) dari pemerintah. Kalau sakit, saya tidak bingung lagi,” ungkapnya penuh syukur.

Keluarga Mang Idil kini menempati rumah sederhana yang bahan bangunannya pernah dibantu oleh Bupati Kolaka Timur, Abdul Azis (kini nonaktif). Baginya, itu adalah berkah tambahan yang membuat hari tuanya lebih tenang.

Warga sekitar pun kerap ikut meringankan beban Mang Idil. Ada yang membantu ketika ia kesulitan, ada pula yang sekadar datang untuk berbagi makanan atau menemani bercakap di sore hari.

Kisah Mang Idil adalah potret keteguhan hati, meski sejak kecil hidup dalam kegelapan, ia tetap berusaha berguna bagi keluarga dan lingkungannya. Dari balik kehidupannya yang sederhana, terpantul pesan kuat: keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berjuang, apalagi ketika ada tangan-tangan yang siap saling menolong.

Dan bagi siapa pun yang membaca kisah ini, jika suatu saat berkesempatan untuk mampir ke rumah Mang Idil, sekadar berbagi cerita atau memberi sedikit bantuan, mungkin itu akan menjadi kebahagiaan besar bagi seorang lelaki tua yang hidup dalam keterbatasan namun selalu berusaha tersenyum.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *