Kolaka Timur – Kisah kelam tentang jembatan Teluk Kendari yang membentang megah masih mewarnai perjalanan waktu dalam tahun 2025 ini.
Jembatan yang seketika geger lantaran telah menjelma menjadi ‘panggung’ untuk mengakhiri hidup.
Tercatat, beberapa jiwa lelah memilih larut dalam pelukan laut, menjauh dari gemerlap serta hiruk-pikuk kehidupan duniawi.
Jembatan yang semestinya menjadi simbol kemajuan, kini menjadi monumen bisu bagi mereka yang memilih pergi.
Cerita agak berbeda dari wilayah Kabupaten Kolaka Timur (Koltim), tapi ironis dan memilukan.
Pilihan untuk mengakhiri hidup bersembunyi dalam botol-botol racun gulma atau herbisida.
Cairan yang diciptakan untuk membasmi tanaman pengganggu (merugikan) kini menjadi penuntas derita manusia, mengakhiri tunas-tunas kehidupan.
Hingga di bulan Oktober tahun ini, kalender telah mencatat tiga nyawa yang telah pergi, diseret oleh keputusasaan yang tak terucapkan.
Kebanyakan dari mereka adalah laki-laki yang juga merupakan tiang-tiang keluarga. Ada yang berdomisili dari Desa Sanggona, Desa Tondowatu, Kecamatan Uluiwoi, serta warga dari Desa Ahilulu, Kecamatan Ueesi yang menenggak racun di kebunnya sendiri.
Para pekerja keras itu kemungkinan tak lagi menyanggupi untuk menopang beratnya beban hidup, himpitan ekonomi yang mencekik. Atau bisa mungkin akibat labirin pikiran yang tak berujung sehingga mendorong aksi nekat tersebut (minum racun) sebagai pilihan terbaik walaupun tragis.
Terbaru di bulan ini, seorang lelaki lagi dari Desa Tongauna, Kecamatan Ueesi juga mencoba nekat mengakhiri hidup dengan menenggak racun rumput.
Beruntung, takdir masih berpihak padanya. Nyawanya tertolong setelah berhasil dilarikan ke puskesmas, dan selanjutnya dirujuk ke rumah sakit.
“Baru-baru ini ada lagi laki-laki minum racun rumput. Tapi untungnya cepat dilarikan ke puskesmas sehingga nyawanya tertolong. Sekarang masih dalam perawatan rumah sakit rujukan,” ungkap seorang warga Kecamatan Ueesi, Rabu (1/10/2025).
Jembatan Teluk Kendari serta Kabupaten Kolaka Timur adalah dua wilayah berbeda dengan dua cara yang berbeda pula dalam mengakhiri derita.
Kalau di jembatan Teluk Kendari, jurang laut menjadi lambang mendalam dari sebuah kehampaan perasaan terisolasi, sedangkan di Kabupaten Kolaka Timur, racun herbisida menjadi penanda dari beban atau tekanan hidup yang tak terperikan, tapi menggerogoti jiwa secara perlahan.
Keduanya adalah cerminan dari kerapuhan manusia di hadapan badai kehidupan. Tentu peristiwa ini pula sekaligus menjadi pengingat serta sebuah panggilan bagi kita semua untuk melihat lebih dalam, mendengar lebih saksama, dan mengulurkan tangan sebelum asa benar-benar menjelma menjadi racun.
Mungkin di balik setiap senyum, ada perjuangan yang tak terucap. Di balik setiap kesunyian mungkin ada teriakan minta tolong yang tak terdengar.
Entah itu tentang beban yang tak tertanggungkan, tentang harapan yang telah lama padam, tentang mimpi-mimpi yang hancur berkeping hingga terjun kedalam kehampaan tak berujung sebagai satu-satunya jalan paling singkat.
Jangan biarkan nestapa merenggut senyum dari bibirmu. Jika badai kehidupan menerpa terlalu keras maka jangan ragu mencari pelabuhan.
Jika remuk redam menghimpit dada, maka ingatlah engkau tak seorang diri dalam gelap. Ulurkan tanganmu, ada bahu untuk bersandar, ada telinga untuk mendengar, ada hati yang siap mengulurkan cinta. Jangan biarkan asa layu sebelum bersemi, karena di setiap gelap selalu ada setitik cahaya yang menanti untuk ditemukan.








