Dinding Kayu, Hati Baja: Potret Keluarga Kecil yang Bertahan dengan Doa dan Bantuan Sesama

Uncategorized1628 Dilihat

Koltim – Di sebuah rumah kayu sederhana di pinggiran Desa Welala, tepatnya di Blok D, kawasan perkebunan yang hanya bisa diakses lewat jalan setapak di tengah kebun dan semak belukar, tinggal pasangan suami-istri muda, Rusmiati atau akrab disapa Ros (26) dan Mukhlis (27). Keduanya hidup bersama ayah mertua, Hendi, di atas tanah milik Hj. Neneh, kakak dari Hendi.

Dari perkawinannya, mereka dikaruniai dua anak, Muhammad Bintang yang kini berusia empat tahun, serta Riski Samudra yang masih dua tahun.

Ketika ditemui, Ros tampak menggendong Riski yang tubuhnya kurus dengan kaki dan tangan lemas tak berdaya. Sesekali bocah kecil itu merengek pelan, sebelum kembali diam dalam pelukan ibunya.

Di sisi lain, Mukhlis duduk bersandar di dinding kayu rumah sambil memangku Bintang, anak sulung mereka. Bocah berusia empat tahun itu lahir prematur.

“Tubuhnya dulu sekecil botol Aqua kecil,” kata Ros sambil menahan haru.

Kini, meski tubuhnya tumbuh, Bintang mengalami gangguan pendengaran di telinga kanan dan sering menatap kosong dengan senyum tipis yang tiba-tiba muncul.

Mukhlis sendiri hanyalah seorang buruh serabutan. Hidupnya penuh cerita pilu sejak kecil. Ia lahir di Poso, namun ketika baru berusia tiga bulan, ia ikut sang ayah mengungsi karena kerusuhan.

Sejak itu, ia kehilangan ibu kandungnya dan tak pernah bertemu hingga kini. “Tidak pernah ketemu ibu kandung saya,” ucapnya lirih.

Ros pun menyimpan kisah hidup tak kalah berat. Ia merupakan anak dari Hendi. Sejak kecil ia tinggal bersama ayahnya setelah kedua orang tuanya bercerai. Kini, di usia mudanya, ia kembali menghadapi cobaan besar karena kedua anaknya tumbuh dengan kondisi berbeda. Riski, si bungsu, menderita lumpuh layu sejak lahir. Tubuh kecilnya lemah, sulit berdiri maupun berjalan, hanya bisa terbaring dalam dekapan ibunya.

Di tengah perjuangan membesarkan dua anak dengan kondisi kesehatan yang tak biasa, Ros dan Mukhlis kerap merasa tak berdaya. Penghasilan Mukhlis sebagai buruh serabutan nyaris tak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, apalagi biaya perawatan kesehatan anak-anaknya.

Namun, di saat mereka berada di titik terendah, uluran tangan dari pemerintah dan warga setempat menjadi penyelamat. Bantuan rumah yang kini mereka tempati lahir dari inisiatif Kepala Lingkungan, ibu Karti, yang menggerakkan banyak pihak agar keluarga ini memiliki tempat tinggal layak.

Mulai dari seng, kalsiboard, semen, pasir, hingga mesin air, semuanya hadir dari hasil gotong-royong berbagai pihak. Bahkan fasilitas WC juga dibangunkan oleh BKKBN Kecamatan Ladongi, sehingga keluarga ini kini bisa hidup dengan sanitasi lebih baik.

Meski sederhana, setiap potongan kayu, lembaran seng, dan dinding kalsiboard di rumah itu menyimpan kisah solidaritas. Ada campur tangan camat, pegawai rumah sakit, tokoh masyarakat, hingga warga biasa yang rela menyisihkan sedikit rezekinya demi membantu.

Ros menyadari, tanpa tangan-tangan itu, ia dan keluarganya mungkin masih tinggal di rumah tak layak huni.

“Bahan rumah dari pemerintah. Ada juga dari warga. Mesin air juga bantuan warga. Waktu pembangunan rumah, semua dibantu,” ujarnya penuh syukur.

Bantuan beras dan bahan makanan juga rutin datang dari kelurahan untuk menunjang gizi anak-anaknya. Meskipun mereka belum tersentuh program sosial PKH, Ros dan Mukhlis percaya bahwa perhatian yang sudah mereka terima adalah bukti nyata masih banyak orang yang peduli, dan itulah yang membuat mereka tetap kuat melanjutkan hidup.

Menurut Karti, bantuan yang mengalir datang dari berbagai pihak. Seng rumah dibelikan oleh seorang pegawai RSUD Koltim bernama Irma yang berdomisili di Kelurahan Rara.

Dinding kalsiboard merupakan sumbangan pribadi Camat Ladongi, drh. Arief Budi Prihatmanto. Pasir dibelikan Hj. Janah, semen berasal dari Hj. Imas, sementara warga lain pun turut menyumbang sesuai kemampuan.

“Umur 26 baru ada BPJS-nya. Saya sendiri yang bantu pengurusannya. Untuk program PKH, sudah diajukan tapi masih berproses,” ungkap Karti.

Kisah keluarga ini menjadi potret nyata perjuangan hidup di tengah keterbatasan. Meski serba sulit.