Kolaka Timur — Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kabupaten Kolaka Timur memberikan klarifikasi resmi terkait gangguan jaringan XL yang dikeluhkan masyarakat Desa Pehanggo, Kecamatan Uluiwoi. Setelah dilakukan penelusuran dan konfirmasi ke pihak provider, gangguan tersebut bukan disebabkan oleh pencurian atau sabotase, melainkan faktor teknis dan penyesuaian kapasitas jaringan di wilayah uji coba.
Sebelumnya, warga Pehanggo melaporkan bahwa jaringan XL sempat berfungsi normal dengan kecepatan 4G setelah perbaikan pada September 2025, namun kembali melemah di awal Oktober. Warga juga mencurigai adanya seorang oknum yang mengatasnamakan petugas XL naik ke tower dan mengganti salah satu komponen sebelum jaringan kembali rusak.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kolaka Timur, I Nyoman Abdi, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa setelah dilakukan konfirmasi langsung ke pihak provider XL, tidak ditemukan adanya tindakan pencurian maupun sabotase di area tower jaringan.
“Sudah kami konfirmasi ke pihak XL, dan dipastikan tidak ada pencurian. Di bidang telekomunikasi, hal seperti itu tidak mudah dilakukan,” jelasnya.
Menurut Nyoman, gangguan jaringan di Uluiwoi lebih disebabkan oleh penyesuaian teknis pada kapasitas bandwidth, karena provider XL dan Indosat masih dalam tahap uji coba (trial and error) di daerah tersebut.
“Awalnya mereka mensuplai bandwidth sekitar 100 Mbps, tapi ternyata pengguna di sana hanya sekitar 100 sampai 200 HP. Karena biaya operasional tinggi dan pengguna sedikit, provider mengurangi bandwidth agar tidak merugi,” terangnya.
Lebih lanjut ia menjelaskan, kondisi geografis wilayah Uluiwoi yang berupa daerah pegunungan membuat provider tidak dapat menggunakan sistem frekuensi radio sebagaimana di wilayah dataran rendah. Sebagai gantinya, jaringan disalurkan menggunakan sistem satelit, yang memiliki biaya tinggi namun jangkauan lebih luas.
“Dengan satelit, biaya operasional menjadi mahal. Karena itu, ketika pengguna sedikit, provider cenderung menyesuaikan kapasitas. Inilah yang berdampak pada kualitas jaringan yang kurang stabil,” ujarnya.
Kadis Kominfo menambahkan bahwa jumlah pengguna menjadi faktor utama dalam pengalokasian bandwidth oleh provider. Semakin tinggi aktivitas komunikasi di satu wilayah, semakin besar pula kapasitas jaringan yang disediakan.
Ia mencontohkan pengalaman di Kecamatan Ladongi, saat peringatan HUT Kolaka Timur. Saat itu, Dinas Kominfo memohon kepada pihak Telkomsel untuk menambah bandwidth sementara selama kegiatan berlangsung, agar koneksi tetap stabil meski ribuan orang hadir di lokasi acara.
“Di Ladongi, saat HUT Koltim, kami bermohon ke Telkomsel untuk menambah bandwidth, dan hasilnya jaringan tetap lancar. Sebelumnya di Lambandia, karena tidak ada permintaan, ketika masyarakat berkumpul ribuan orang, jaringan langsung down,” tutur Nyoman.
Dengan ini, Dinas Kominfo Kolaka Timur menegaskan bahwa gangguan jaringan di Uluiwoi disebabkan oleh penyesuaian teknis dan kapasitas pengguna, bukan akibat pencurian. Provider juga diimbau untuk terus meningkatkan layanan agar masyarakat di wilayah pegunungan tetap dapat menikmati akses komunikasi yang memadai.








