Kisah Sumiarsih, Pelajar yang Membawa Nama Koltim di Panggung Nasional tanpa Koper dan Beasiswa, Ini Penjelasan Kepsek SMP 2 Ladongi

DAERAH1589 Dilihat

Kolaka Timur — Kepala SMP Negeri 2 Ladongi, Suristono, S.Pd., memberikan pernyataan terkait pemberitaan mengenai siswinya, Sumiarsih, yang tengah menjadi perhatian publik karena prestasinya di ajang nasional. Ia menilai perlu meluruskan beberapa informasi, terutama mengenai beasiswa dan jenis lomba yang diikuti.

“Saya sedikit meluruskan, khususnya terkait beasiswa, perhatian sekolah dan juga dinas. Kita sudah berusaha,” ujarnya membuka percakapan dengan wartawan.

Suristono menjelaskan bahwa sejak awal pihak sekolah telah berupaya memberikan perhatian. Ia bahkan sempat menemui Kepala Dinas Pendidikan Kolaka Timur untuk menyampaikan kabar bahwa salah satu siswi dari keluarga kurang mampu itu akan berangkat ke Aceh mengikuti Program Bina Talenta Indonesia (BTI).

“Saya sudah ketemu pak kadis kemarin. Saya sampaikan, ini ada anak kita mau berangkat ke Aceh, berasal dari keluarga yang tidak mampu. Apakah tidak bisa kita pikirkan? Walaupun pembiayaan ditanggung kementerian, tapi setidaknya sebagai bentuk penghargaan kepada murid yang berprestasi ada sekadar uang saku atau apa.”

Namun dari pertemuan itu, ia pulang dengan jawaban yang belum menggembirakan. Dinas disebut sedang melakukan efisiensi besar-besaran sehingga dukungan tambahan sulit diberikan.

“Pak kadis bahkan bilang, seandainya tidak terbentur aturan anggaran, beliau sendiri yang akan datang ke sekolah, mungkin juga ke rumah orangtuanya,” kenang Suristono.

Sebagai bentuk dukungan, guru-guru di sekolah akhirnya berinisiatif mengumpulkan dana secara sukarela.

“Kami di sekolah bersama guru-guru berpartisipasi untuk uang saku anak tersebut,” ujarnya.

Suristono memahami munculnya pertanyaan publik soal beasiswa bagi siswa berprestasi. Ia menegaskan bahwa regulasi penggunaan dana BOS tidak memungkinkan pemberian beasiswa langsung.

“Kalau dalam hal beasiswa yang dimaksud, memang tidak bisa dianggarkan dari dana BOS. Kalau itu kami alokasikan justru kami melanggar, berpotensi jadi temuan,” katanya.

Ia menambahkan, penghargaan kepada siswa berprestasi hanya bisa diberikan dalam bentuk uang pembinaan dari kegiatan tertentu, bukan beasiswa rutin.

“Beasiswa rutin itu tidak ada. Penghargaan biasanya hanya uang pembinaan,” jelasnya.

Suristono juga meluruskan soal Sumiarsih sebagai juara Olimpiade Sains Nasional (OSN).

“Terkait Sumi juara OSN matematika, IPA 1, 2, 3: tidak pernah. Nanti saya dikomplain teman-teman yang juara. Yang benar itu waktu FLS3N, juara 1 lomba menulis cerita,” kata Suristono.

Namun hasil penelusuran wartawan menunjukkan bahwa Sumiarsih memang memiliki prestasi akademik di tingkat provinsi Sulawesi Tenggara, hanya saja bukan dari OSN resmi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek). Berdasarkan data publikasi daring, Sumiarsih meraih juara 1 Matematika, juara 3 IPS, juara 1 Bahasa Inggris, dan juara 2 Bahasa Indonesia dalam kompetisi yang diselenggarakan oleh Sigma Sains Indonesia, lembaga penyelenggara olimpiade sains independen berbasis digital yang aktif menggelar lomba daring bagi pelajar di seluruh Indonesia.

Meski bukan ajang resmi pemerintah, kegiatan tersebut dikenal luas sebagai sarana pengembangan minat dan bakat akademik.

Selain prestasi itu, Sumiarsih juga menjadi satu-satunya peserta dari Kolaka Timur yang lolos ke Bina Talenta Indonesia (BTI) tahun ini, ajang pembinaan nasional bagi pelajar berpotensi.

Suristono menambahkan, janji dukungan dari kementerian berupa pulsa data dan insentif bagi peserta serta pembina hingga kini belum terealisasi. Akibatnya, sebagian kebutuhan ditanggung oleh guru dan pihak sekolah.

“Yang membiayai gurunya pribadi, sekolah,” ujarnya singkat.

Dari 41 SMP di Kolaka Timur, hanya SMPN 2 Ladongi yang ikut serta dalam program tersebut.

“Kami lihat ini peluang untuk mengangkat sekolah. Pokoknya harus daftar,” katanya dengan senyum kecil.

Menjelang keberangkatan Sumiarsih, pihak sekolah sempat bertemu pihak keluarga untuk menjelaskan kondisi keuangan sekolah dan aturan dana BOS yang ketat.

“Kami pihak sekolah tidak bisa membantu dalam hal itu (biaya). Cari-cari dulu di luar. Nanti akan dikembalikan oleh pemerintah,” ungkapnya.

Suristono menegaskan, meski dengan keterbatasan anggaran, dukungan moral dari para guru tetap menjadi bentuk perhatian sekolah.

“Karena dana BOS tidak ada porsi untuk itu, kami guru-guru saja yang ‘urunan’, ala kadarnya.”

Berdasarkan hasil verifikasi lapangan dan data kompetisi daring, prestasi Sumiarsih memang benar adanya, meski bukan dari ajang OSN resmi. Sementara pernyataan pihak sekolah menegaskan bahwa tidak ada unsur pembiaran terhadap siswa berprestasi, melainkan keterbatasan regulasi dan anggaran yang membatasi bentuk dukungan finansial dari sekolah maupun dinas pendidikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *