Suara Netizen: Kasus RSUD Koltim, Harapan dan Sindiran untuk Para Pemimpin

HEADLINE2893 Dilihat

Kolaka Timur – Kasus dugaan suap pembangunan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kolaka Timur (Koltim) yang menyeret sejumlah pejabat daerah dan pihak Kementerian Kesehatan, terus menjadi sorotan publik.

Pemanggilan Wakil Bupati Koltim, Yosep Sahaka, oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) semakin memanaskan perbincangan warga, baik di ruang publik maupun di jagat maya.

Di media sosial, warganet ramai-ramai menumpahkan komentar. Sebagian menaruh curiga, sebagian lain memilih bersikap realistis, sementara tak sedikit yang melontarkan sindiran dengan bahasa satire khas Koltim.

Seperti yang terlihat dalam unggahan akun Facebook (FB) Elang Selatan, dimana pada postingannya itu berbagai macam reaksi atau komentar disuarakan warganet menanggapi khabar pemanggilan Yosep Sahaka oleh KPK RI.

“Ada apa lagi ini?!, mungkin berhubungan dengan Bupati,” tulis Adhiadrian Adhiadrian dalam kolom komentar, mencerminkan kecurigaan bahwa kasus ini tidak bisa dilepaskan dari peran pucuk pimpinan daerah yang lebih dulu ditetapkan tersangka.

Namun ada pula suara yang lebih tenang. “Bisa jadi sebagai saksi,” komentar Santo Santo yang memilih menunggu proses hukum berjalan tanpa buru-buru menyimpulkan.

Di sisi berbeda, Jumardil Cippe memberikan komentar dengan kritik yang sedikit keras.

“Koltim sekarang sedang tidak baik-baik saja, butuh pemimpin yang betul-betul religius dan jujur, bukan religius kaleng-kaleng saja,” katanya.

Kritik ini memperlihatkan kekecewaan masyarakat terhadap moralitas para pejabat, terutama yang tampil dengan citra religius namun dianggap tak sejalan dengan perbuatannya.

Tak semua komentar bernada sinis. Ada pula harapan agar Yosep Sahaka tetap terhindar dari jerat hukum.

“Semoga beliau hanya berakhir jadi saksi saja,” tulis Om Arpal Wmp, seakan mewakili keinginan publik untuk tetap memiliki sosok pemimpin yang bersih di tengah krisis kepercayaan.

Yang menarik, sindiran dengan nuansa budaya lokal juga mewarnai diskusi.

“Ini mi yang lelea, lanjutkan kebaikan slogan yang mantap,” ujar Junar Jaya, serta Paulus Bansin menambahkan “Slogan ‘lelea’ berujung benar menjadi ‘mohai’,” begitu dua komentar yang viral. Ungkapan ini merujuk pada jargon politik di Koltim, yang kini justru diplesetkan menjadi bahan kritik atas kondisi pemerintahan daerah.

Dari beragam komentar tersebut, terlihat jelas bahwa publik Koltim tengah berada di persimpangan antara kekecewaan, harapan, dan kemarahan. Mereka menginginkan keadilan ditegakkan, tetapi juga masih menyisakan secercah harapan agar ada pemimpin yang mampu menjaga integritas di tengah badai kasus korupsi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *