Kolaka Timur – Nama Yayasan Marennu Cerdas Sultra mendadak menjadi bahan perbincangan hangat. Yayasan yang disebut-sebut dalam pusaran dugaan korupsi dana CSR BI–OJK ini muncul bak hantu: terdengar gaungnya, tapi wujudnya sulit ditemukan.
Yang membuat publik semakin terkejut, beredar kabar bahwa mantan direktur yayasan tersebut kini sudah duduk manis sebagai anggota DPRD Kolaka Timur. Sebuah klaim yang, jika benar, akan mengguncang kepercayaan publik pada lembaga wakil rakyat di daerah.
Namun ketika isu itu ditelusuri langsung ke sejumlah anggota DPRD Kolaka Timur, jawaban yang muncul justru membuat misteri ini kian dalam. Hampir semua yang dimintai keterangan mengaku tidak tahu, seakan-akan yayasan itu benar-benar tak pernah ada di hadapan mereka.
Andi Rasbiatun dari Fraksi NasDem mengaku baru tahu setelah ramai dibicarakan.
Ia mengatakan, kalau sebetulnya saya tidak pernah dengar, nanti saya dengar setelah ramai dibicarakan, oh ternyata yayasan ini ada.
Keterangannya membuat publik bertanya-tanya. Bagaimana mungkin sebuah yayasan yang disebut berperan menyalurkan dana CSR bisa begitu asing bahkan di telinga para legislator?.
Rumina, koleganya sesama Fraksi NasDem, malah memperlihatkan ekspresi kaget ketika ditanya. Ia mengaku, saya belum pernah dengar, lalu menambahkan dengan nada heran, “adakah begitu.”
Reaksi spontan Rumina menambah kesan bahwa nama yayasan ini bukan hanya asing, tapi juga seperti tiba-tiba jatuh dari langit. Tidak ada catatan, tidak ada kabar, tiba-tiba saja ramai dibicarakan.
Ketua Komisi II DPRD Kolaka Timur, Suprianto dari Partai Gerindra, juga menolak tahu-menahu.
“Oh, belum pernah dengar. Saya hanya fokus pada masalah petani, juga belum tahu masalah ini karena saya tidak pernah mendengarkan ataupun mengatensi masalah seperti itu. Tidak juga,” tegasnya.
Jawaban Suprianto sejalan dengan aktivitasnya belakangan ini, yang memang tengah sibuk mengurusi protes petani soal harga gabah. Namun pengakuannya tetap menambah tanda tanya besar: jika benar ada kolega mereka yang pernah menjadi direktur yayasan itu, mengapa tidak ada seorang pun yang mengetahuinya?.
Dari tiga pernyataan berbeda itu, benang merahnya justru sama: mereka kompak menyatakan tidak tahu. Anehnya, kabar tentang eksistensi yayasan dan sosok yang disebut-sebut sebagai direktur kini sudah beredar luas di luar.
Publik pun semakin resah. Apakah yayasan ini benar-benar eksis namun dijalankan dalam senyap? Ataukah ia hanya sebuah nama yang sengaja dimunculkan untuk menutupi aliran dana tertentu? Dan siapa sebenarnya anggota DPRD Koltim yang disebut-sebut pernah memimpin yayasan misterius itu?
Hingga kini, tak ada jawaban pasti. Yang ada hanyalah serentetan pengakuan “tidak tahu” dari para legislator, yang justru menambah aura gelap misteri Yayasan Marennu Cerdas Sultra.











