Anak Berprestasi Gagal Dapat Beasiswa Koltim, Orangtua: Katanya Tak Layak Karena Belum Miskin

DAERAH1298 Dilihat

Kolaka Timur — Program beasiswa prestasi bagi mahasiswa asal Kabupaten Kolaka Timur kembali menjadi sorotan. Meski daftar penerima sudah dipublikasikan, mekanisme seleksi dan kriteria penerima dinilai tidak transparan. Akibatnya, banyak mahasiswa berprestasi justru tidak tersentuh bantuan pendidikan yang bersumber dari APBD Koltim itu.

Dari hasil penelusuran, pemerintah Kabupaten Kolaka Timur telah mengalokasikan Rp900 juta untuk program beasiswa pada tahun 2024, dengan pembagian Rp600 juta untuk santri dan Rp300 juta untuk mahasiswa S1. Namun, publik mempertanyakan dasar penentuan penerima yang tidak pernah disosialisasikan secara terbuka kepada masyarakat.

Dalam pemberitaan media online tertanggal 16 Februari 2024, Kabag Kesra saat itu, Ayi Wahyudin, menyebut bahwa ratusan mahasiswa dan santri akan menerima bantuan ini secara rutin setiap tahun.

“Kalau untuk calon sarjana itu ada 300 orang yang mendapatkan beasiswa pendidikan dari Pemda Koltim, dan itu akan disalurkan setiap tahun. Kalau untuk beasiswa santri itu sebanyak 200 orang,” ujar Ayi Wahyudin kala itu.

Namun, kompasistana.com justru menemukan laporan sedikitnya 15 mahasiswa asal Kolaka Timur dengan IPK di atas 3,4 tidak tercantum dalam daftar penerima. Rata-rata mereka kini berada di semester 3, dengan dua lainnya masing-masing di semester 5 dan semester 7. Lebih ironis lagi, salah seorang mahasiswa tersebut berasal dari Desa Taore, Aere. Daerah yang sempat menarik pemberitaan beberapa media karena aktivitas pertambangan bijih nikel.

Sejumlah orangtua mahasiswa mengaku tidak mengetahui adanya pengumuman resmi terkait tata cara pendaftaran, jadwal seleksi, maupun syarat administrasi beasiswa tersebut.

“Memang tidak transparan pengumumannya. Buktinya banyak anak-anak yang ketinggalan informasi,” ujar salah satu orangtua mahasiswa yang tidak ingin disebutkan namanya, Rabu (12/11/2025).

Ia juga menuturkan, bahwa beberapa mahasiswa pernah mengajukan langsung ke Pemda Koltim, namun ditolak tanpa penjelasan yang jelas.

“Beberapa sudah pernah mengajukan di Pemda Koltim tapi dinyatakan tidak lolos, entah apa kriterianya. Yang jelas, itu putra-putri Koltim yang wajib pemerintah perhatikan,” tambahnya.

Komentar serupa datang dari orangtua mahasiswa lainnya yang juga merasa kecewa dengan proses seleksi yang dianggap tidak objektif.

“Kemarin ada katanya beasiswa kampus untuk yang berprestasi, anak saya masuk nominasi, tapi begitu ke rumah tim verifikasinya, dia dinyatakan tidak layak dapat karena orang tua belum miskin,” ujarnya.

Pernyataan ini memperlihatkan adanya kebingungan antara kriteria akademik dan ekonomi dalam program beasiswa tersebut. Seharusnya, beasiswa prestasi diberikan berdasarkan capaian akademik dan dedikasi belajar, bukan semata kondisi ekonomi keluarga. Ketidakjelasan inilah yang kemudian menimbulkan kecurigaan publik bahwa program bantuan ini tidak dijalankan secara konsisten sesuai dengan tujuannya.

Masyarakat pun turut menyoroti hal ini.

“Banyak mahasiswa asal Koltim yang kuliah perlu mendapat perhatian, tapi terkesan dipilih-pilih yang hanya dekat dengan oknum-oknum saja,” ujar salah satu warga.

Komentar tersebut memperkuat pandangan publik bahwa program beasiswa Kolaka Timur belum menyentuh esensi pemerataan kesempatan. Kritik ini bukan hanya muncul dari kalangan mahasiswa, tetapi juga masyarakat umum yang menilai bahwa bantuan pendidikan seharusnya menjadi hak bagi setiap pelajar berprestasi, tanpa memandang kedekatan personal dengan pejabat atau pihak tertentu. Di tengah situasi ekonomi yang sulit, beasiswa semestinya menjadi bentuk nyata kehadiran pemerintah dalam mendorong generasi muda untuk terus berprestasi, bukan justru menimbulkan rasa kecewa dan kecemburuan sosial.

Sebelumnya, isu dugaan penyimpangan juga sempat mencuat dari salah satu aktivis mahasiswa yang menuding adanya indikasi korupsi dalam pengelolaan beasiswa tahun 2024. Ia bahkan sempat menyatakan akan melaporkan Bagian Kesra ke kejaksaan. Namun menariknya, setelah namanya tercantum dalam daftar penerima beasiswa tahun 2025 yang diumumkan akun Jendela Koltim di Instagram pada 23 September 2025, aktivis tersebut tidak lagi bersuara di ruang publik.

Sementara itu, upaya konfirmasi ke pejabat terkait belum membuahkan hasil. Kadis Pendidikan Koltim tidak berada di tempat, sedangkan Kabag Kesra yang kini menjabat mengaku masih dalam kondisi kurang sehat.

“Maaf Pak, untuk hari ini belum sempat lagi. Kurang sehat,” tulis Kabag Kesra saat dikonfirmasi melalui pesan singkat.

Minimnya sosialisasi dan ketidakjelasan kriteria penerima membuat publik menilai program beasiswa ini dijalankan tanpa prinsip keterbukaan. Program yang semestinya menjadi wujud perhatian pemerintah terhadap mahasiswa berprestasi justru memunculkan kesan eksklusif dan penuh tanda tanya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *