Indonesia Menuju Swasembada Pangan, Petani Koltim Kian Bergairah Bersawah

DAERAH210 Dilihat

Kolaka Timur — Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan Kabupaten Kolaka Timur, Ridwan, menyampaikan bahwa Indonesia saat ini berada pada fase swasembada pangan, khususnya untuk komoditas beras. Hal itu ia sampaikan saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa, 30 Desember 2025.

Ridwan menjelaskan, secara nasional pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian dijadwalkan akan merilis pernyataan resmi terkait capaian swasembada pangan. Menurutnya, kebutuhan pangan dalam negeri, telah terpenuhi.

“Besok sepertinya Kementerian Pertanian akan merilis bahwa kita secara nasional sudah swasembada. Kebutuhan pangan kita, khususnya beras, sudah terpenuhi tanpa harus impor,” ujar Ridwan.

Ia mengaitkan capaian tersebut dengan fenomena alih fungsi lahan yang terjadi di berbagai daerah, termasuk di Kolaka Timur. Ridwan menyebut, dalam beberapa tahun terakhir cukup banyak lahan perkebunan yang beralih menjadi lahan persawahan. Komoditas seperti kelapa, kakao, hingga lada atau merica, kini mulai ditinggalkan sebagian petani dan digantikan dengan tanaman padi.

Menurutnya, perubahan ini merupakan bagian dari pilihan dan penyesuaian petani terhadap kondisi ekonomi dan kebijakan pemerintah. Ridwan menegaskan bahwa tidak ada paksaan dalam alih fungsi tersebut, melainkan didorong oleh pertimbangan keuntungan dan keberlanjutan usaha tani.

“Kembali pada pilihan petani. Apakah mereka mau mengelola sebagai kebun dengan komoditas kakao atau yang lainnya. Tapi sekarang ini lebih banyak penyesuaian,” jelasnya.

Salah satu faktor utama yang mendorong minat petani untuk bersawah, lanjut Ridwan, adalah harga gabah yang dinilai cukup baik. Kenaikan harga gabah sejalan dengan kebijakan pemerintah pusat dalam mendukung swasembada pangan nasional.

“Harga gabah kan bagus. Ini sejalan dengan prioritas pemerintah, visi misi Pak Prabowo terkait swasembada pangan. Dengan harga gabah yang naik sesuai Inpres, Rp6.500 per kilogram, itu yang menggairahkan petani kita untuk bersawah. Makanya banyak lahan perkebunan yang dikonversi menjadi sawah,” ungkapnya.

Terkait evaluasi kinerja tahunan sektor tanaman pangan dan peternakan, Ridwan menyampaikan bahwa pihaknya belum dapat mempublikasikan data secara terbuka. Ia mengatakan, evaluasi dan sinkronisasi data masih menunggu waktu yang telah ditetapkan.

“Untuk evaluasi, akhir Januari. Termasuk sinkronisasi data-data yang dirilis oleh BPS,” katanya.

Ridwan menambahkan, kehati-hatian dalam publikasi data menjadi pertimbangan utama dinas. Ia menilai, penggunaan data resmi dari Badan Pusat Statistik (BPS) penting untuk menjaga objektivitas dan kredibilitas informasi yang disampaikan ke publik.

“Misalnya data sektoral terkait tanaman pangan dan peternakan, kalau kami input sendiri ditakutkan orang berpikir subjektif. Tapi kalau datanya dari BPS, semua orang akan akui. Sebenarnya data-data kami secara internal ada, mulai dari produksi, luas tanah, sampai luas panen,” pungkasnya.

Dengan tren peningkatan minat petani terhadap sektor persawahan dan dukungan kebijakan pemerintah, Ridwan optimistis Kolaka Timur dapat terus berkontribusi dalam mendukung agenda besar swasembada pangan nasional.